Sabtu, 18 April 2020

Sejarah Pertumbuhan Islam Di Kepulauan Sulu, Mindanao Filipina

Islam merupakan agama yang Rahmatan Lil'alami n, yakni agama selaku rahmat bagi seluruh alam. Agama Islam yang dibawa dan di ajarkan kembali oleh baginda Nabi Muhammad Saw adalah agama untuk seluruh umat insan, yang berlainan dengan zamannya para nabi terdahulu yang cuma mengajarkan Islam itu hanya untuk kaumnya saja di kawasan para delegasi itu berada. Pancaran sinar cahaya Islam ternyata sudah sampai di kepulauan sulu, Mindanao Filipina yang masih berada di tempat Asia tenggara. Bagaimana sejarah kemajuan Islam di kepulauan sulu, mindanao filipina berikut ini penjelasannya. Sejarah Perkembangan Islam di Kepulauan Sulu Mindanau Filipina Luas daerah Mindanao yaitu 94.630 km2, lebih kecil 10.000 km2 dari Luzon. Pulau ini bergunung-gunung, salah satunya yaitu Gunung Apo yang tertinggi di Filipina. Pulau Mindanao berbatasan dengan Laut Sulu di sebelah barat, Laut Filipina di timur, dan Laut Sulawesi di sebelah selatan. Jumlah penduduk Mindanau berkisar 19 juta orang dimana kurang lebih 5 juta yakni umat muslim. Pulau Mindanao adalah pulau paling besar kedua di Filipina dan salah satu dari tiga kalangan pulau utama bareng dengan Luzon dan Visayas. Mindanao, terletak di bab selatan Filipina, adalah daerah residensial bersejarah bagi lebih banyak didominasi kaum muslim atau suku Moro yang sebagian besar yaitu dari etnis Marano dan Tasaug. Moro yakni sebutan penjajah Spanyol bagi kaum muslim lokal. Pada periode itu secara umum dikuasai masyarakatMindanau dan pulau di sekitarnya ialah muslim. Peperangan untuk meraih kemerdekaan telah ditempuh oleh kaum muslim selama lima periode melawan para penguasa. Pasukan Spanyol, Amerika, Jepang dan Filipina belum berhasil meredam tekad mereka yang ingin memisahkan diri dari Filipina yang secara umum dikuasai penduduknya beragama Katolik. Pada ketika sekarang, umat muslim cuma menjadi mayoritas di tempat otonomi ARMM (The Autonomous Region in Muslim Mindanao). ARMM di bawah kepemimpinan Misuari meliputi Maguindanao, Lanao del Sur, Sulu, dan Tawi-Tawi. ARMM dibentukhasil dari komitmen damai antara MNLF dan pemerintah sentra Filipina. Ketika itu penduduk boleh menyatakan pilihannya untuk bergabung dalam kawasan otonomi muslim, dan risikonya empat kawasan tersebut menentukan untuk bergabung. Meskipun begitu, kesepakatan itu tidak cukup memuaskan sebagian pejuang muslim sehingga munculah Moro Islamic Liberation Front (MILF) dan golongan Abu Sayyaf. Kelompok ini bersumpah untuk menentang dan memboikot ARMM dan tetap memperjuangkan kemerdekaan. Meskipun pada ketika kini MILF juga menerima otonami dengan syarat kawasan otonami ARMM diperluas dengan disertakan beberapa provinsi lagi sebagai aksesori. Bangsa Eropa pertama kali datang di Filipina pada tahun 1521 dipimpin oleh Magellan yang lalu dibunuh oleh kepala suku lokal dalam pertempuran. Kemudian Tentara Spanyol yang dipimpin Miguel Lopez Legaspi, yang datang di pantai kepulauan Filipina pada tahun 1565, menghentikan pertumbuhan dakwah Islam pada tahun 1570 di Manila, yang mengakibatkan terjadinya peperangan selama berabad-kurun abad pendudukan Spanyol. Sehingga dapat dibilang bahwa penjajahan Spanyol bermula pada tahun 1565 di salah satu pulau Filipina dan mereka segera mengenali bahwa sebagian masyarakatsetempat beragama Islam. Di samping suku Maguindanao, suku lain yang bertempat tinggal di pulau Mindanao yaitu suku Maranao yang merupakan kelompok muslim terbesar kedua di Filipina. Dari sekian banyak kalangan muslim Filipina, Maranao yaitu yang terakhir memeluk Islam. Sufisme memengaruhi corak Islam di Maranao, terutama dalam hal kosakata dan musik ritual. Nama Bangsa Moro merujuk pada empat suku yang mendiami Filipina selatan, yakni Tausug, Maranao, Maguindanao, dan Banguingui. Proses Islamisasi di Filipina Proses Islamisasi permulaan yang terjadi di kepulauan Sulu, Mindanao Filipina dapat diklasifikasi dalam beberapa tahap, berikut ini : Tahap pertama, terjadi pada seperempat terakhir kala ketiga belas atau lebih awal dikala para pedagang aneh mendiami daerah ini. Beberapa penjualini menikahi keluarga setempat yang besar lengan berkuasa. Pada tahap ini elemen-komponen Islam permulaan diintegrasikan ke dalam penduduk setempat dan secara sedikit demi sedikit terjadi pembentukan keluarga Muslim. Tahap kedua, yang diperkirakan terjadi pada paruh kedua kurun keempat belas, ialah kelanjutan dari pendirian kumpulan keluarga Muslim yang secara sedikit demi sedikit melaksanakan dakwah kepada masyarakat lokal. Peristiwa ini serentak dengan proses dakwah Islam di Jawa. Pada tahap ini para pendakwah dikenal dengan sebutan makhdumin. Tahap ketiga, yakni kehadiran Muslim Melayu dari Sumatera pada awal masa kelima belas. Hal ini ditandai dengan kehadiran Raja Baguinda dengan beberapa penasehatnya yang ahliMuslim yang menjamin berjalannya proses dakwah. Tahap selanjutnya adalah  Tahap keempat, yakni pendirian kesultanan oleh Shariful Hashim menjelang tengah masa kelima belas. Pada ketika itu, Islam sudah menyebar dari tempat pantai ke tempat pegunungan di pedalaman pulau Sulu. Penerimaan kepala-kepala suku setempat di tempat pantai menandakan bahwa kesadaran wacana Islam telah menyebar luas. Menjelang permulaan abad keenam belas, korelasi politik dan jual beli yang makin berkembangdengan bagian kepulauan Nusantara lain yang sudah sukses diislamisasi, menjadikan Sulu sebagai bagian dari Darul Islam yang berpusat di Malaysia. Sekitar selesai era keenam belas dan beberapa dekade awal era ketujuh belas, persekutuan politik dengan kerajaan-kerajaan Islam yang bertetangga untuk menghadapi bahaya penjajahan dan Kristenisasi Barat dan para pendakwah yang terus berdatangan menjamin keberlangsungan Islam di Sulu hingga kini. Hubungan antara Muslim Filipina dan dunia Islam secara umum dikerjakan melalui umat Islam Asia Tenggara yang lain. Hal ini disebabkan kedekatan kultural dan, terutama, religiusitas Bangsa Moro dan bangsa Melayu lainnya. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa, sebelum penggunaan bahasa Arab menjadi terkenal, buku-buku agama di Mindanao dan Sulu pada umumnya berbahasa Melayu yang ditulis dalam huruf jawi, dan cuma sedikit orang yang bisa membaca aksara Arab. Setelah Filipina merdeka pada 1946 di mana pulau Mindanao dan Sulu dijadikan bab dari Republik Filipina, hubungan antara Muslim Filipina dan negara Timur Tengah semakin besar lengan berkuasa. Hubungan ini ditandai dengan pengantaran para pelajar Mindanao ke universitas al Azhar dan banyaknya beasiswa yang ditawarkan oleh negara-negara Arab. Dengan kondisi ini hubungan Muslim Filipina yang pada mulanya berorientasi Asia tenggara menjadi kian terbuka terhadap saluran langsung Islam di timur tengah. Demikian bahasna perihal sejarah pertumbuhan Islam di kepulauan Sulu, Mindanao Filipina. Semoga berguna
Sumber https://dadanby.blogspot.com


EmoticonEmoticon