Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Januari 2021

Review Buku Naskah Drama Pelukis & Wanita: Penjara Circularity Dan Kenihilan Makna



Informasi Buku:

Judul : Naskah Drama Pelukis & Wanita
Penulis : Adhyra Pratama Irianto
Pengantar: Lusi Handayani, Irwan Jamal, Iswadi Pratama, Ari Pahala Hutabarat
Penerbit :  Andhra Grafika
Cetakan pertama, Januari 2021
129 halaman

***

Buku karya Adhyra Pratama Irianto ini mendatangkan sebuah kenyataan absurd dalam kehidupan tokoh-tokohnya, ialah seorang wanita yang ingin dilukis sehingga beliau mencari galeri pelukis terbaik. Wanita tampaknya tidak sukses menerima dirinya dilukis oleh sang pelukis alasannya tangan kanan pelukis cuma bolak-balik tanpa ada kepastian untuk melukis sang wanita.  

Dalam tiga babak, kehidupan tokoh "perempuan" terus berputar pada siklus yang serupa, beliau tiba ke suatu galeri meminta untuk dilukis dan ajun pelukis membawakan cat yang salah, tangan kanan pelukis kembali mencari cat yang benar namun kembali lagi dengan cat yang salah lagi sehingga pelukis alhasil mencari cat itu sendiri. Wanita terpaksa harus kembali menanti, karena terlalu usang asisten pelukis pergi mencari pelukis, dan pelukis yang hingga dengan membawa cat yang benar mencari asistennya karena alat melukis ada pada ajudan. 

Jadilah pelukis dan ajun itu saling mencari satu sampai lain sampai perempuan muak menunggu, ia murka dan pergi mencari galeri lain biar dirinya dilukis. Namun, sebagaimana kegiatan rutin kehidupan yang terus berulang dan tercermin dalam drama tersebut, tokoh “perempuan”  terus kembali pada galeri yang serupa, menanti dan terus menanti, lalu muak, kemudian kembali lagi dan seperti itulah tanpa kejelasan, tanpa kepastian apakah nanti  beliau benar-benar akan dilukis atau tidak. 

Setelah membaca buku ini, saya menangkap bahwa buku naskah drama “Pelukis & Wanita” mengusung aliran para absurdis, semacam Albert Camus dan Samuel Beckett. Pemikiran yang begitu fenomenal di masa 1960-an, di mana -sejauh tangkapan saya- bahwa pada hakikatnya tidak ada makna di dunia ini selain yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Termasuk di dalam kenihilan makna adalah amoralitas atau ketidakadilan- itu (utamanya ketidakadilan dan dilema keberadaan) terlihat pada dialog pelukis dan perempuan :

WANITA
Bisa kamu jelaskan  kenapa aku tak akan pernah paham??

PELUKIS
Karena kau ialah objek lukisan. Kau bukan pelukis.

WANITA
Kenapa saya tidak bisa menjadi pelukis?

PELUKIS
Karena kau ialah objek lukisan! Itu tak mampu kamu pungkiri dan elak lagi. Selamanya kamu tidak akan bisa menjadi pelukis. Kau cuma  duduk hening, melihat kuas-kuas menari, cat-cat menitik pelan di atas kanvas..

Ketidakadilan itu juga tampakpada obrolan yang menegaskan kasta antara pelukis, birokratnya pelukis, para kriktikus dan kurator, dan yang terakhir orang awam atau hambanya seni yang ialah kasta dari tokoh “perempuan” yang ingin dirinya dilukis, sehingga wanitapun mirip kehilangan eksistensinya. 

Absurdisme yang didasarkan pada iktikad bahwa perjuangan manusia untuk mencari makna kehidupan dan tetap saja rampung dengan kegagalan dan kecenderungan manusia untuk terus memburu kebahagiaan kemudian menerima makna dari kehidupan itu sebagai sesuatu yang absurd direfleksikan dalam naskah drama Pelukis dan Wanita lewat alur cerita dan tokoh-tokohnya. Naskah inipun menyadarkan kita bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita telah mengalami ke-absurd-an tersebut, fase berulang, kegiatan rutin sehari-hari yang berulang, mengejar harapan, memburu kebahagiaan untuk mendapatkan arti kehidupan yang pada alhasil juga kita cuma akan menemui akhir hayat. 

Namun, meski pada kenyataannya apa yang dialami wanita maupun pelukis dan asistennya dalam naskah drama tersebut sama sekali memuakkan, terdapat pula kalimat-kalimat yang menyentil pembaca (di samping dialog-dialog serius) seperti “efesiensi waktu yang bukan negosiasi”, juga pilihan dialog puitik saat pelukis ingin menggambarkan jenis warna “warna yang aku perlukan yakni paduan dari intisari purnama, yang berpadu dengan bias-bias pelangi, serta sedikit sentuhan dari kemilau seja di tepi pantai akhir demam isu kemarau”, sehingga membangkitkan imaji dan  kesan “indah” dalam naskah tersebut. 

Dari berita yang aku dapatkan di buku tersebut “Pelukis & Wanita” sendiri telah beberapa kali dipentaskan oleh Teater Senyawa yang ialah sanggar teater dari penulis naskah drama ini sendiri. Juga dipentaskan oleh beberapa kalangan Teater Indonesia lainnya. Dalam pementasannya, penokohan dari tokoh pelukis, perempuan dan asisten pelukis yang mengeksekusi obrolan-dialog dalam naskah tersebut menimbulkan “Pelukis & Wanita” tetap asyik bahkan mengajak kita menertawakan ketiga tokohnya, meski sehabis membaca dan merenunginya, cerita ini mengusung rasa depresi, memuakkan, letih akan keterikatan. 

“Pelukis & Wanita” memberikan memori yang bahu-membahu tidak (ingin) kita miliki melalui tokoh wanita yang terus menunggu, berharap, kehidupannya terus berulang. Padahal, tanpa kita sadari kita sendiri mengalaminya dalam versi yang berlainan. 

Hal itu menyadarkan kita dan menyebabkan naskah drama tersebut relateable dikala dibaca maupun dikala menonton pementasannya. Penulis buku ini, Adhyra Irianto tampaknya juga sudah menciptakan kita mengalami keadaan Vellichor; hanyut dalam tulisannya, hingga kita terus berharap bahwa tokoh perempuan akan betul-betul dilukis dalam drama tiga babak itu, padahal alhasil kita gagal mendapatkan "ending" cerita yang bahagia dan telah mengalami absurdisme itu sendiri.



Sumber https://www.pojokreview.com/

Kamis, 14 Januari 2021

I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki: Cara Ideal Mengganti Penderitaan Menjadi Prestasi

Review Buku: I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki karya Baek Se Hee oleh Ami Alifia.


Namun, terpenting ialah bagaimana seorang Baek Se Hee mengganti kejadian kelam dalam hidupnya menjadi sebuah prestasi. Yah, ini adalah salah satu cara unik seorang penulis, yaitu menulis semua rasa sakit yang menderanya, rasa kehilangan, kecewa, murka, tergolong senang. Dan hebatnya, tulisan itu mampu memberi inspirasi orang lain.


Hasilnya, Baek Se Hee bisa mengganti penderitaan selama 10 tahun itu menjadi suatu dongeng yang indah. Yah, buku ini tidak hanya mengajarkan kita untuk menyayangi diri sendiri. Tapi juga mengajarkan satu hal; apapun itu yang ada di dalam hidupnya, ialah sebuah berkah. Termasuk: penderitaan! 


Sumber https://www.pojokreview.com/

Rabu, 30 Desember 2020

Review Novel Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982 : Feminisme Dan Praktik Misoginis

 


Informasi buku : 

Judul : Kim Ji-yeong; Lahir Tahun 1982 (82년생 김지영)

Penulis : Cho Nam Joo

Alih bahasa : Iingliana

Penerbit : Minumsa Publishing / PT Gramedia Pustaka Utama 

Tahun terbit : 2016 / 2019

Tebal buku : 192 hlm; 20cm


***


Kim Ji-yeong; Lahir Tahun 1982 ialah novel yang mengangkat tentang feminisme dan juga mempotrait praktik misoginis lewat kisah Kim Ji-yeong. Cho Nam Joo di dalam novelnya mendatangkan sosok Kim Ji-yeong yang lahir tahun 1982 di mana pada waktu itu perbandingan angka kelahiran anak perempuan jauh di bawah angka kelahiran anak laki-laki. Kim Ji-yeong lahir di dalam keluarga yang tidak menginginkan dirinya melainkan seorang anak laki-laki, beliau seorang perempuan yang menjadi bulan-bulan para guru laki-laki di sekolah, dan yang disalahkan ayahnya ketika ia diusik anak pria dalam perjalanan pulang dari sekolah di malam hari. 


Kim Ji-yeong ialah mahasiswi yang tidak pernah direkomendasikan dosen untuk pekerjaan magang di perusahaan ternama, karyawan teladan yang tidak pernah menerima penawaran khusus, serta istri yang melepaskan karier dan kebebasannya demi menjadi seorang ibu dan mengasuh anak. Terkejut, stress kemudian banyak hal yang tidak cocok dengan jati dirinya, Kim Ji-yeong perlahan berubah dan bersikap aneh, beliau mulai mengalami tertekan. 


Sosok Kim Ji-yeong mengingatkan kita dengan R. A Kartini, namun di periode yang lebih modern. Kim Ji-yeong menginginkan kesetaraan gender dan keadilan. Meskipun tidak mengutarakannya secara eksklusif, hal ini tampakdari paparan narasi ketika ibu Kim Ji-yeong yang mengandungnya namun nenek Kim Ji-yeong sama sekali tidak menghendaki cucu perempuan. Kemudian dikala seluruh pekerjaan rumah hanya di lakukan oleh anak perempuan, kuliner lezat diutamakan untuk adik pria Kim Ji-yeong, juga bagaimana perasaan Kim Ji-yeong saat ayahnya justru menyalahkan Kim Ji-yeong, menyuruhnya berpakaian dengan benar padahal yang ia pakai cuma seragam sekolah, menyuruhnya tidak pulang malam sedangkan jam belajar di Korea memang mirip itu, apalagi saat para pelajar mempunyai pelajaran pemanis atau mesti mengikuti les. Kim Ji-yeong  yang ketika itu harusnya dirangkul alasannya dia nyaris celaka karena diusik oleh anak laki-laki di malam hari justru dimarahi ayahnya. Dan bukankah anak pria itu juga bersalah dalam hal tersebut? 


Novel ini menangkap kegalauan-kegundahan para perempuan dengan sempurna. Contoh lainnya adalah saat Kim Ji-yeong sukses diterima kerja, beliau menghadiri acara minum-minum sesama rekan kerja, bos laki-lakinya memaksa Kim Ji-yeong untuk terus minum. Di ketika-saat konyol dan tidak adil seperti itu Kim Ji-yeong tidak bisa menyuarakan isi hati dan pemikirannya.


Ia sudah beralasan bahwa beliau sudah minum sampai melalui kapasitasnya, bahwa perjalanannya pulang ke tempat tinggal akan berbahaya, dan bahwa ia tidak mampu minum lagi, namun mereka kemudian berkata ada banyak laki-laki di sana, jadi Kim Ji-yeong tidak perlu khawatir. 


Justru  kalian lah yang paling membuatku khawatir, pikir Kim Ji-yeong sambil diam-membisu menuangkan minumannya ke gelas atau mangkuk kosong lain. (Halaman 115) 


Kemudian, saat orang-orang di sekeliling Kim Ji-yeong mulai sibuk dengan urusan orang lain, berkata mengapa Kim Ji-yeong yang sudah menikah tetapi belum mempunyai anak, apa kau tidak sehat, dll. Ia ingin sekali menyampaikan sesuatu namun tidak,


Kim Ji-yeong sama sekali tidak sedih. Yang tidak tahan dihadapinya ialah ketika-dikala seperti itu. Kim Ji-yeong ingin berkata bahwa ia sangat sehat, tidak butuh vitamin apapun, dan ia ingin membicarakan planning keluarganya dengan suaminya sendiri, bukan dengan saudara-kerabat yang baru pertama kali ditemuinya. Namun, yang bisa dikatakannya cuma, "Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja." (Halaman 133) 


Kim Ji-yeong paham betul masyarakatnya ialah masyarakat misoginis dan tidak semestinya perempuan menyuarakan usulan dan menga"ada"kan dirinya lalu menuntut hak bila tak mau terlibat ke dalam sebuah problem. 


Namun, seiring waktu, Kim Ji-yeong yang mesti melalui kala-masa kuliah, mencari pekerjaan, sampai telah bekerja lalu menikah mulai tidak tahan dan puncaknya yakni dikala suaminya menyarankan agar mereka memiliki seorang anak untuk mengatasi balasan dan pandangan orang lain. Suami Kim Ji-yeong ini cukup berpikiran terbuka dan penyayang, sehingga hasilnya Kim Ji-yeong  menyuarakan isi hatinya. Bahwa kalau ia mengandung dan melahirkan anak maka akan banyak yang harus dia relakan. 


"Kau berkata kita semestinya tidak memikirkan apa yang hilang dari kita. Aku mungkin akan kehilangan era muda, kesehatan, pekerjaan, rekan-rekan kerja, sobat-sahabat, planning hidup, dan abad depanku. Karena itu saya senantiasa memikirkan apa yang hilang dariku. Tetapi apa yang hilang darimu?" (Halaman 136) 


Kim Ji-yeong tidak mampu menyingkirkan perasaan tidak adil dan kehilangannya walaupun sang suami berkata bahwa dia akan banyak membantu Kim Ji-yeong yang terpaksa berhenti melakukan pekerjaan demi mengasuh anak. Kim Ji-yeong malah marah-marah dan berkata "Tidak bisakah kau berhenti mengoceh tentang bantuan?" Tetapi lalu dia merasa menyesal dan meminta maaf. Ia sadar, situasinya tidak akan berubah atau malah memburuk. Kim Ji-yeong kembali kehilangan suaranya. Setahun sehabis melahirkan putrinya, Kim Ji-yeong mengalami depresi dan harus menjalani perawatan. 


Novel yang sensasional dari Korea Selatan ini bergotong-royong memiliki alur kisah yang cukup datar, dalam artian konflik-pertentangan yang ada tidak begitu kompleks. Namun, yang menciptakan novel ini begitu ramai dibicarakan dan menarik untuk dibaca, yaitu karena tokoh dan apa yang terjadi begitu kongkret juga familiar. Tidak hanya familiar bagi pembaca di Korea namun juga pembaca di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Hal ini memperlihatkan bahwa meskipun kesetaraan gender sudah dipraktekkan di Indonesia, pengembangannya belum sempurna. Maka dari itu novel Kim Ji-yeong lahir tahun 1982 ini bersifat universal. 


Novel ini memberikan bahwa menjadi seorang wanita terlebih seorang ibu tidaklah mudah. Masyarakat semestinya berhenti menawarkan penghakiman sendiri, menerapkan standar masyarakat atau persyaratan-persyaratan orang yang diterima penduduk dan menebar kebencian jikalau seseorang tidak cocok standar. Berhenti menerapkan siklus belajar, kuliah, bekerja, menikah, mempunyai anak dan mengorganisir anak, pensiun, lalu mati. Kebahagiaan dan bagaimana kita menjalani hidup yaitu hak kita sendiri. 


Berhenti dengan laki-laki yang harus mencari duit dan perempuan yang mengorganisir anak. Berhenti menganggap bahwa seorang perempuan mesti pintar karena kelak mesti menjadi contoh dan mengajari anak-anaknya bukan sebab memang diperbolehkan berkarier kemudian meraih esensi dan keberadaan selaku seseorang, selaku pribadi. Jangan menjadi seorang ibu atas dorongan pihak lain jikalau tidak menginginkannya dan tidak siap, psikologis dan kesiapan mental seorang ibu dalam merawat dan mendidik anak sungguh penting, karena hal tersebut sungguh kuat kepada berkembang kembang dan keadaan mental sang anak. 


Tetapi, sebagaimana Kim Ji-yeong yang menjalani hal mirip itu, menerima bahwa tidak banyak yang mau berubah. Pembahasan tentang kesetaraan gender dan keadilan yang sempurna tidak akan menemui titik terperinci alasannya adalah seperti itulah tugas perempuan. Yang berganti hanyalah perempuan tetap mampu berkarier, tetapi tetap tidak bisa menghindar dari portrait seorang perempuan di kalangan penduduk misoginis, tetap tidak mampu meninggalkan peran selaku seorang ibu. 


Kim Ji-yeong; Lahir Tahun 1982 sudah diadaptasi oleh sutradara Kim Do-young menjadi sebuah film dengan judul yang sama. Meski Kim Ji-yeong di dalam novel mempunyai banyak keadaan di mana dia susah menyuarakan pemikirannya, di dalam film Kim Ji-yeong banyak mendapatkan kesempatan untuk menyatakan pemikirannya dan menuntut keadilan kepada orang-orang yang mendiskriminasi. Kim Ji-yeong adalah kita semua dan Cho Nam Joo sang penulis melalui tokoh dalam novelnya membagikan semangat terhadap semua wanita untuk menjadi independent woman tanpa melalaikan bagaimana peran sebagai seorang wanita. Akhir kata, biar di mana pun dan dari mana pun Kim Ji-yeong yang ada, mampu secepatnya pulih dan berdiri dari luka batin balasan hal-hal yang tidak menguntungkan selaku wanita. 


Sumber https://www.pojokreview.com/

Rabu, 16 Desember 2020

Buku Catatan Milik Marie Curie, Buku Paling Berbahaya Di Tampang Bumi

 ternyata buku itu belum sedemikian berbahaya Buku Catatan Milik Marie Curie, Buku Paling Berbahaya di Muka Bumi
Buku Catatan milik Marie Curie

Pojokreview.com - Anda tentu mengenang betapa akhir-akhir ini sering terjadi sweeping buku-buku tertentu. Mulai dari buku berpaham kiri, hingga paham radikal. Tapi, ternyata buku itu belum sedemikian berbahaya.


Ada buku yang masih sangat berbahaya bahkan hingga hari ini. Buku tersebut yakni buku catatan harian milik Marie Curie. Buku yang Anda lihat gambarnya di atas, memang sekilas tampak mirip buku pada umumnya.


Apa yang menciptakan buku itu menjadi sedemikian berbahaya?


Sebelum mengenal buku tersebut dan apa saja isinya, mari kita mengenal dulu siapa itu Marie Curie. Marie Curie yakni seorang wanita pertama di dunia yang memenangkan hadiah Nobel. Tidak tanggung-tanggung, sebab Marie Curie mendapatkan nobel sebanyak dua kali. Sekali di tahun 1903 untuk nobel di bidang Fisika. Sedangkan tahun 1911 ia mendapatkan Nobel sekali lagi di bidang kimia. Dia yaitu spesialis fisika dan kimia yang memperoleh radio aktif dan perintis radiologi.


Marie Curie, bersama suaminya Pierre Curie mendirikan Curie Institute di mana akibatnya dia mendapatkan unsur radium dan polonium. Ia meninggal di tahun 1934 dikarenakan anemia plastik. Itu yakni konsekuensi sebab ia terlalu banyak terpapar radiasi.


Marie Curie, peserta Nobel dua kali untuk cabang berlainan. Dia menjadi wanita pertama peserta Nobel di dunia


Selama melaksanakan observasi, Marie Curie menulis semua yang dilakukannya, apa saja yang diteliti, dan sebagainya di buku catatan tersebut. Ia bahkan menulis sambil melaksanakan penelitian di laboratoriumnya. Masalahnya yaitu, ketika itu radioaktivitas masih belum dimengerti. 


Maka buku tersebut menyimpan banyak sampel senyawa bahan. Mereka menyimpan sampel di kantong jas lab tolok ukur, termasuk menyimpan bukunya. Maka buku catatan Marie Curie tersebut mengandung senyawa berbahaya yang masih ada hingga ketika ini. Yah, buku itu juga masih disimpan oleh Institut Fisika Nuklir di Polandia, dengan kotak yang berlapis timah. 


Bila Anda ingin membacanya, maka Anda akan menandatangani kontraktertentu. Salah satunya, pihak perpustakaan yang menyimpan buku itu tidak akan bertanggung jawab bila terjadi sesuatu pada diri Anda alasannya terekspos radiasi dari senyawa yang masih menempel di buku itu.


Ketika membacanya, Anda juga akan diposisikan di ruang baca khusus, juga menggunakan pakaian khusus, dan Anda juga ditempeli alat untuk mengawasi kontaminasi selama membaca. 


Kaprikornus, berlawanan dengan buku "berbahaya" yang lain, buku satu ini justru berbahaya alasannya adalah fisiknya, bukan apa yang dikandung di dalamnya. Ini pola foto seseorang yang membaca buku catatan Marie Curie tersebut.


Buku Catatan Marie Curie


Meski demikian, belum pernah ada yang tercatat meninggal sebab membaca buku tersebut. Bahkan ada yang membacanya selama setahun dan rutin. Tapi, alasannya adalah pinjaman yang ketat, serta paparan radiasi yang cukup kecil (alasannya sudah puluhan tahun disimpan), balasannya tidak tercatat ada korban yang menjadi korban alasannya adalah buku tersebut.


Sumber https://www.pojokreview.com/