Kamis, 16 April 2020

Sejarah Perkembangan Islam Di Afrika (Mesir, Al Jazair Dan Tunisia)

Sebelum memasuki bahasan wacana sejarah pertumbuhan Islam di Afrika, alangkah baiknya kita kenali dahulu ihwal letak geografis kawasan Afrika. Selama ini kita kenal Afrika alasannya masih banyaknya binatang-hewan liar yang berada disana dan menjadi daerah berbagai pengambilan gambar dan buatan kegiatan ilmiah dari bermacam-macam organisasi dunia wacana kekayaan hayati di Afrika. Berikut yakni pembahasan sejarah kemajuan Islam di Afrika (Mesir, Al Jazair dan Tunisia) selengkapnya. Letak Geografis Afrika   Daerah Afrika yakni yang terbesar dari ketiga benua di kepingan selatan Bumi dan yang paling besar kedua sesudah Asia dari semua benua. Luasnya kurang lebih 30.244.050 km2 (11.677.240 mil2) tergolong kepulauan disekitarnya, meliputi 20.3% dari total daratan di bumi dan didiami lebih dari 800 juta manusia, atau sekitar sepertujuh populasi manusia di bumi. Dipisahkan dari Eropa oleh Laut Tengah, Afrika menyatu dengan Asia di ujung timur lautnya melalui Terusan Suez yang memiliki lebar 130 km. Semenanjung Sinai yang dimiliki oleh Mesir sering dianggap secara geopolitis sebagai bagian dari Afrika.  Dari ujung paling utara, Cape Spartel di Maroko, di 37°21′ lintang Utara, ke ujung paling selatan, Cape Agulhas di Afrika Selatan, 34°51′15″ lintang Selatan, terbentang jarak sekitar 8000 km, dari ujung paling barat, Cape Verde, 17°33′22″ bujur Barat, sampai ujung paling timur, Ras Hafun di Somalia, 51°27′52″ bujur Timur, jaraknya sekitar 7.400 km.  Panjang garis pantainya 26.000 km (selaku perbandingan, Eropa, yang memiliki luas 9.700.000 km2 memiliki garis pantai 32.000 km.  Proses Perkembangan Islam di Afrika Pada tahun ke-5 dari kenabian, Rasulullah SAW menyuruh beberapa orang sahabatnya (berjumlah 15 orang: 11 laki-laki dan 4 perempuan) untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia). Hijrah ini dipimpin oleh Usman bin Maz’un yang bertujuan untuk menyingkir dari penyiksaan-penyiksaan dan menyelamatkan diri dari kaum kafir Quraisy serta mendakwahkan agama Islam. Selain itu, pada sekitar tahun ke-6 Hijrah, Nabi SAW mendelegasikan sahabatnya Hatib bin Abi Balta’ah untuk menyampaikan surat dakwah (ajakan ajakan untuk masuk Islam) terhadap Muqauqis (penguasa Mesir, Gubernur Romawi Timur). Islam kesannya mulai menyebar ke negara-negara Afrika Utara serta terjadi proses Islamisasi. Hal ini terjadi sekitar kala 7-8 Masehi. Adapun di Afrika Timur, faktor Islamisasi tampak terang dengan kedatangan dan perluasan Islam ke Afrika Selatan, antara lain dijalankan oleh para budak Melayu yang dibawa oleh orang-orang Eropa ke wilayah itu. Setelah dibebaskan dari Pulau Robben, tak jauh dari Cape Town, pada tahun 1793, Imam Abdullah membuat petisi pertamanya untuk pembangunan masjid. Saat itu, petisi tersebut sempat menerima penolakan meski risikonya mendapatkan izin dari pemerintah hindia belanda untuk mendirikan masjid. Ia pun menulis suatu buku wacana yurisprudensi Islam pada 1781 dalam bahasa Melayu dan Arab. Judul buku itu adalah Ma’rifa al­Islam wa al­Iman. Buku ini memberi imbas sosial dan keagamaan yang besar di golongan komunitas Muslim di Cape Town. Pada 1793, Imam Abdullah membangun sekolah Muslim pertama. Lokasinya di Dorp Street, Bokaap, yang jadinya menjadi bab dari Masjid Auwal, masjid pertama di Cape Town. Pada 1825, sekolah ini mempunyai 491 siswa, sebagian besar dari kelompok budak negro. Di kemudian hari, sekolah inilah yang melahirkan orang-orang Afrika Arab yang mengerti bahasa Arab. Setelah Imam Abdullah wafat, kepemimpinan sekolah ini dilanjutkan oleh Imam Achmat van Bengalen. Pada masa awal kedatangannya di Cape Town, Islam ialah agama yang diawasi secara ketat oleh penguasa. Pemerintah Hindia Belanda secara tegas melarang acara Islam di kawasan umum, meski ibadah eksklusif diperbolehkan. Tak ada komunitas Muslim yang diizinkan untuk melakukan asosiasi. Mengingat keadaan itu, ulama mirip Imam Abdullah, Syaikh Yusuf, dan juga yang lain menggunakan rumah mereka selaku daerah untuk berguru Islam. Mereka berupaya keras menjaga eksistensi Islam di Cape Town. Beruntung, pembatasan ini kian lama semakin surut. Pada 1770, di rumah seorang budak yang dibebaskan berjulukan Mohammodan, secara rutin diselenggarakan konferensi. Dalam konferensi itu, mereka yang hadir membaca, shalat, dan mempelajari ayat-ayat al Alquran. Pada 25 Juli 1804, Islam secara resmi tak lagi menjadi agama yang dihentikan. Warga setempat pun bebas menentukan agama yang diyakininya. Sementara, para ulama mampu berdakwah secara leluasa. Penyebaran Islam di Benua Afrika tidak terlepas dari kompetisi antara Islam dan Nasrani, serta antara Islam dan westernisasi sekuler. Walaupun begitu, Islam di benua Afrika tetap meningkat ke arah yang lebih maju, baik kuantitas maupun kualitas. Di Benua Afrika banyak negara yang penduduknya dominan Islam, seperti: Mesir, Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko, Sahara Barat, Mauritania, Mali, Nigeria, Senegal, Gambia, Guinea, Somalia, dan Sudan. Sedangkan negara-negara di Benua Afrika yang minoritas Islam ialah: Zambia, Uganda, Mozambique, Kenya, Kongo, dan Afrika Selatan. 1. Mesir Umat Islam di negeri ini ialah dominan. Dengan jumlah masyarakatsebanyak 58,630,000 orang menimbulkan negara ini menjadi negara dengan populasi muslim paling besar ke-7 di dunia. Mesir yaitu negara yang besar jasanya bagi perkembangan umat Islam di bidang ilmu pengetahuan, pendidikan dan kebudayaan. Hal ini ditandai dengan didirikannya berbagai akademi tinggi, dan yang tertua ialah Universitas al-Azhar di Kairo yang didirikan oleh Jauhar al-Khatib as-Saqili pada tanggal 7 Ramadhan 361 Hijriyah (22 Juni 972 Masehi). Mesir juga memiliki bangunan-bangunan dengan nilai seni yang tinggi, seperti Al­ Qasr Al­ Garb (Istana Barat), Al­ Qasr Asy­ Syarq (Istana Timur), Universitas Al Azhar, tembok yang mengelilingi istana, dan pintu-pintu gerbang yang terkenal dengan nama Bab An­ Nasr (pintu kemenangan) serta Bab Al­ Fath (pintu pembukaan). Di Mesir juga terdapat masjid-masjid yang megah dan indah, contohnya: Masjid Al Azhar, Masjid Maqis, Masjid Rasyidah, Masjid Aqmar, Masjid Saleh, dan Masjid Raya di Qairawan yang dibangun kembali pada tahun 862 Masehi. Mesir juga lazimdisebut: “Jumhuriyah Misr Al­ Arabiyah” (Republik Arab Mesir), luas wilayahnya sekitar 997,739 km. 2. Al Jazair Bentuk pemerintahannya yaitu republik, adapun ibu kotanya yaitu Al Jir, dan bahasa resminya yaitu bahasa Arab dan bahasa Perancis. Penduduknya yang beragama Islam berjumlah 99,1 % dari seluruh penduduk. Aljazair diperintah oleh bangsa Romawi semenjak tahun 40 SM, oleh Vandala dari tahun 429-534 SM, oleh Bizantium dari tahun 534-690 SM, dan simpulan masa ke-7 dikuasai umat Islam.  Pada tahun 1830 Masehi, Al Jjazair diduduki oleh Perancis, dan gres pada tanggal 3 Juli 1962 mendapatkan kemerdekaan. Semenjak tahun 1980 al Jazair memasuki abad kebangkitan Islam hal itu di tandai antara lain : Semangat kehidupan beragama yang meningkat. Perencanaan ekonomi yang lebih sistematis, bahkan menyebabkan masyarakatmenganut minoritas mitos industrialisasi selaku satu-satunya kekuatan. Berdasarkan kongres partai tunggal di Al Jazair, adalah The National Liberation Front (Front Pembebasan Nasional)  Pada tanggal 27-31 Januari 1979, maka diadakan acara-aktivitas, antara lain :  Mendirikan “Pusat Latihan Imam” di Meftah, sebelah Utara Al-Jir. Membangun Universitas Teknik Ultra Modern di Oran; mendirikan pusat perdagangan Ultra terbaru di Oran, dan membangun pusat perdagangan serta kebudayaan Riyad Al Feth yang bergaya Barat dan kontroversial di al Jir. Pembangunan masjid-masjid. Di Aljazir juga terdapat Kementerian Agama (Wizarah as­Syu’un al­ Diniyah) yang tugas terutama menyebarkan studi Islam dan mengenalkan tradisi Islam serta ideologi Islam. Salah satu kegiatannya adalah mengadakan seminar perihal anutan Islam yang pertama di batna, 1969. Dan ketiga di al Jir 1980 Masehi. 3. Tunisia Tunisia terletak di Afrika Utara, bentuk pemerintahannya yakni Republik, adapun ibu kotanya yaitu Tunis (dulu berjulukan Tarsyisy). Penduduknya lebih banyak didominasi beragama Islam adalah sebanyak 99,4 %. Tunisia diperintah oleh penguasa-penguasa Islam. Pada tahun 1881, Muhammad Sadiq, raja dari kerajaan Husainiyah, menyerah pada Perancis. Sejak dikala itu, Tunisia menjadi jajahan Perancis hingga memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1956 Masehi. Tunisia mempunyai peranan besar dalam sejarah perkembangan Islam. Melalui lembaga pendidikan Jam’iyah Zaitunah, yang lalu berubah menjadi Institut Ilmu-Ilmu Islam, kader-kader ulama dididik dan dilatih semoga menjadi ulama besar. Lembaga pendidikan tersebut berada dalam pengarahan dan pemerintahan Tunisia. Demikian bahasan tentang sejarah perkembangan Islam di Afrika (Mesir, Al Jazair dan Tunisia). Semoga bermanfaat
Sumber https://dadanby.blogspot.com


EmoticonEmoticon